Ketika Tuhan Diam

Penderitaan dapat datang di mana pun dan kapan pun.

Tidak ada seorang pun dari kita yang benar-benar siap menghadapi suatu hari di mana sebuah kejadian tak terduga terjadi dalam hidup kita. Seperti halnya melompat ke danau yang dingin, tidak ada seorang pun yang mempersiapkan kita akan kejutan yang dirasakan tubuh kita, sampai setelah kita mengalaminya sendiri.

Penderitaan Ayub datang tanpa terduga. Apa yang dialami oleh Ayub tidak dadpat dipahami oleh dirinya sendiri.

Pernahkah engkau mengalaminya?

Mungkin awalnya hanya cek rutin ke dokter yang kemudian berubah menjadi masa-masa perjuangan menghadapi kanker.

Ataukah sebuah telepon di malam hari, mengabarkan tentang kepergian seseorang yang kita cintai, yang memutarbalikkan hidup kita.

Atau mungkin keguguran bayi, atau perceraian orang tua ketika kita masih kecil.

Apa yang tidak dapat kita bayangkan dapat terjadi dan penderitaan tidak hanya datang sekali saja – namun dapat berkepanjangan dan menyakiti kita. 

Penderitaan itu tidak terpahami dan karena itu Ayub bertanya lebih dari 25 kali: “mengapa, mengapa, mengapa”. Dia mempertanyakan pertanyaan ini berulang-ulang. Tapi setiap kali Ayub berkata, dia TAHU Tuhan ada di sana, meskipun Tuhan diam.

Tuhan tidak selalu memberi kita jawaban tapi dia pasti memberi kita…

Dirinya sendiri.

Pergumulan Ayub bukannya tentang kehadiran Tuhan tapi lebih tentang keheningan Tuhan. 

Tuhan tahu lebih baik daripada kita tentang apa yang kita perlukan. Kita pikir kita perlu jawaban, tapi pernahkah kamu berbagi beban pada suamimu atau temanmu dan mereka memberimu solusi ketika yang kau perlukan adalah pelukan erat dan kehadiran telinga mereka yang mendengarkan kita. Meski saran mereka mungkin berguna, kadang-kadang yang kita perlukan hanyalah kehadiran mereka.

Jadi apa yang harus kita lakukan ketika Tuhan diam?

  • Datang ke hadiratnya dalam doa.
  • Datang ke hadiratnya dengan membaca firmanNya.
  • Berjalan di jalanNya dan tidak menyimpang dari perintahNya.
  • Tinggikanlah firmanNya lebih dari siapa pun.

Ayub berkata di Ayub 23:10-12

10. Karena Ia tahu jalan hidupku; seandainya Ia menguji aku, aku akan timbul seperti emas.

11. Kakiku tetap mengikuti jejak-Nya, aku menuruti jalan-Nya dan tidak menyimpang.

12.Perintah dari bibir-Nya tidak kulanggar, dalam sanubariku kusimpan ucapan mulut-Nya.

a23

Ayub telah memasuki dapur api penderitaan dan dia yakin bahwa setelah ujian ini, dia akan timbul seperti emas.

Emas tidak takut akan api. Api hanya akan membuat emas menjadi lebih murni.

Warren Wiersbe menulis:

“Ketika Tuhan menaruh umatnya dalam tungku, Dia mengarahkan pandanganNya ke jam dan tanganNya pada termostat. Dia tahu berapa lama dan berapa banyak.

Beberapa orang masuk ke dalam tungku kesengsaraan dan terbakar, orang-orang yang lain masuk dan dimurnikan. Apa yang membedakan? Sikap mereka terhadap Firman Tuhan dan kehendak Tuhan. Jika kita dipelihara oleh Firman dan tunduk pada kehendakNya, pengalaman di dalam tungku yang menyakitkan hanya akan membuat kita menjadi lebih baik. Tapi jika kita menolak kehendak Tuhan dan gagal menjalankan kehendakNya, tungku itu akan membakar kita dan memberi kepahitan. “

Jangan biarkan dirimu terbakar dan menjadi pahit karena api ujian yang kau hadapi.

Namun, berserahlah pada rencana Tuhan akan hidupmu, percaya akan kedaulatanNya dan kebaikanNya serta berpegang teguh pada jalanNya.

Bahkan dalam keheningan dan doa yang tidak dijawab – Tuhan bersama kita. 

Kiranya kehadiran Tuhan cukup bagi kita.

Kiranya engkau timbul seperti emas! Emas yang murni!

*Diterjemahkan dari “When God is Silent” by Courtney Joseph. 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s