Advent 4 – Renungan

Renungan wk4

Damai

Bahan Alkitab :  Lukas 2:8-21

Menemukan damai di tengah kesibukan Natal ini…

Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai. (Yesaya 9:6)

Ketika saya mempelajari tentang Natal, saya sedikit tertawa kecil ketika memikirkan kesalahpahaman umum yang terjadi tentang bagaimana Natal pertama di Alkitab sesungguhnya hadir. Adegan Natal saya muncul dalam bentuk yang bersih, tenang dan kooperatif, dengan kain lampin putih yang terang dan binatang-binatang yang jinak. Malaikat melayang-layang di atas kepala, dan saya hampir dapat mendengar alunan harpa yang lembut dan damai sebagai latarnya.

Tapi tunggu…

Alkitab mengingatkan kita bahwa ada momen-momen kekacauan di cerita Natal. Cerita yang – dari sudut pandang dunia – bukan apa-apa tapi kedamaian dalam waktu menuju kelahiran Kristus:

Pada usia belia, dunia Maria berputar 180 derajat ketika dia menerima perannya sebagai ibu dari Anak Allah. Dia menjawab ‘ya’ kepada Allah dalam keseluruhan iman tanpa informasi yang cukup tentang apa yang harus diperbuatnya.

Yusuf dipilih untuk mendampingi Maria dengan kunjungan malaikat, yang memberitahu dia untuk maju terus dan mengambil Maria sebagai istrinya, meskipun mereka sudah pasti akan menghadapi cemoohan akan kehamilan yang tidak direncanakan.

Setelah melalui perjalanan (dalam metode transportasi yang tidak nyaman) selama berhari-hari, Maria yang hamil tua dan Yusuf tiba di Betlehem untuk menemukan bahwa mereka tidak punya tempat yang layak untuk tinggal, sehingga mereka menempati satu-satunya naungan yang dapat mereka temukan: kandang binatang yang bau. Di sini Yesus – dikirim oleh Allah untuk menjadi Juruselamat dunia – lahir dengan cara yang paling sederhana dan tidak diharapkan.

Malaikat-malaikat menampakkan diri kepada gembala-gembala di padang. Para Majus datang dari tempat-tempat yang jauh.  Cerita yang sederhana tapi spesial.

Damai dan Natal.

Sepertinya dua kata ini tidak selalu cocok berdampingan, bukan?

Kita percepat bahasan ke masa sekarang, dimana hari-hari dan minggu-minggu seputar liburan diisi dengan berbagai momen damai dan menantang. Parkiran begitu padat. Orang-orang dan jadwal-jadwal begitu menuntut. Keluarga kadang-kadang menjadi sangat dekat untuk penghiburan. Uang menjadi sedikit, dan anak-anak manis bahkan dapat menjadi tidak bersyukur. Ketika kita tampak luarnya menyanyi “Damai di bumi, kebaikan untuk manusia,” seringkali di bagian dalam diri, kita terlalu letih dan terlalu terbagi perhatian kita untuk seharusnya sekedar mengingat apa itu – Siapa itu – yang kita rayakan di tempat yang utama.

Tapi Maria adalah Maria yang manis dan dapat dipercaya. Alkitab berkata bahwa dia “menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya dan merenungkannya.” Ketika hidupnya tidak bisa menemukan yang lain selain ketidakpastian, dia memilih untuk percaya, tetap diam, dan melewati segala keajaiban-keajaiban yang tidak dapat terlukiskan yaitu bahwa Allah bekerja di sekitarnya.

Ketika saya merenungkan hal ini – seperti Maria, saya menyadari bahwa damai yang sejati dan kekal tidak tergantung situasi saya.

Damai adalah belajar untuk mempercayakan diri pada Allah, bahkan di tengah kekacauan. Damai hadir ketika saya menetapkan hati pada apa yang kekal dan benar, bukan pada hal-hal sementara di dunia ini. Damai adalah mendapat kepercayaan diri dalam Allah yang sangat mengasihi saya sehingga Dia mau mengirimkan AnakNya yang terkasih ke dunia sebagai bayi yang tak berdaya, untuk menyelamatkan pendosa yang buruk seperti saya. Damai adalah berkata ‘tidak’ kepada dunia, dan ‘ya’ kepada Allah. Itu adalah jenis damai yang saya perlukan dalam hidup saya selama Natal dan sepanjang tahun yang sibuk!

Musim liburan kali ini, saya ingin secara sengaja mengabarkan damai seperti itu kepada sekeliling saya. Saya mau orang lain melihat Yesus yang saya layani ada di dalam diri saya. Saya mau mereka untuk mendengar tentang Yesus saat saya bercerita tentang cerita kelahiranNya, dan saat saya menyembahNya untuk datang menyelamatkan dunia yang rusak. Saya mau mereka dapat merasakan kasih Yesus melalui saya, saat saya mengasihi dengan kesabaran, gairah dan anugerah yang sama. Tidak peduli bagaimana kekacauan dunia ini menghalangi jalan saya.

Sebagai pengikut Kristus, bersama kita dapat menjadi pembawa damai Natal kali ini. Anugerah dan damai bersama Anda dari Allah, Bapa kita…

Dan Maria berkata: Jiwaku memuliakan Tuhan,

dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku.

Lukas 1:46-47

  • Renungan diterjemahkan dari tulisan Courtney Joseph, Women Living Well
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s