Advent 3 – Renungan

Renungan wk3

Sukacita

Bahan Alkitab :  Matius 2:1-12

Ketika mereka melihat bintang itu, sangat bersukacitalah mereka. Maka masuklah mereka ke dalam rumah itu dan melihat Anak itu bersama Maria, ibuNya, lalu sujud menyembah Dia.

Setiap tahun keluarga kami bersama-sama naik mobil untuk berputar-putar melihat lampu-lampu natal. Sebelum kami meninggalkan rumah, saya minta anak-anak mewarnai beberapa gambar bayi Yesus. Lalu saya menulis pesan singkat di gambar itu dan anak-anak menandatanganinya. Sambil melewati rumah-rumah, kami mencari ‘nativity scene’  – gambar atau diorama kelahiran Yesus. Kami harus mencari dengan keras karena ‘nativity scene’ jarang terlihat! Tetapi ketika kami menemukannya – oh alangkah senangnya! Anak-anak bertepuk tangan dan bersorak karena mereka telah menanti-nanti waktu untuk meletakkan gambar-gambar mereka di kotak surat rumah orang itu yang telah kami beri pesan demikian, “Terima kasih telah mempertontonkan cinta pertama kami – Yesus!”

Tapi pada malam dimana Yesus lahir, tidak ada tepuk tangan meriah dan sorak-sorai. Dia lahir di sebuah kandang yang sederhana. Di kandang yang sederhana, Tuhan menjadi daging.

Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaanNya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepadaNya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran (Yohanes 1:14).

Imanuel – Allah menyertai kita (Matius 1:23)

Ini adalah arti natal yang sesungguhnya. Bukanlah ham dan kue kering liburan, lampu-lampu dan dekorasi-dekorasi natal, santa dan rusa kutub, atau barbie dan lego! Natal adalah tentang Yesus – datang di dalam daging – dia tinggal di antara kita – ini hal yang sangat mencengangkan otak saya! Dan Dia berangkat dari kandang ke salib karena kasihNya kepada Anda dan saya.

Bukankah hidup kadang-kadang merupakan sebuah peperangan untuk mendapat sukacita? Kenyataannya, hidup dapat menjadi berat, dan sukacita bukanlah reaksi alami kita terhadap tekanan hidup.

John Piper berkata, “Secara alamiah, kita merasakan kenikmatan yang lebih besar dari pemberian-pemberian Allah daripada dari diriNya sendiri.”

Ini sebuah godaan untuk menemukan sukacita kita di dalam perayaan-perayaan dan tradisi-tradisi akan natal daripada menemukannya dalam Tuhan sendiri. Mari kita tidak menunggu untuk ‘to-do-list’ kita selesai atau untuk menerima hadiah yang wah dari suami atau teman kita. Mari mengarahkan hati pada Yesus!

Tuhan beserta kita!

Selamat Natal!

  • Renungan diterjemahkan dari tulisan Courtney Joseph, Women Living Well
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s